Magister Ilmu Kebencanaan USK dan TDMRC Sambut Kunjungan Akademik Universiti Malaya Bahas Transformasi Sosial Aceh Pasca Tsunami dan Konflik

Banda Aceh, 24 Mei 2025 – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK menyambut kunjungan akademik dari Department of Geography, Universiti Malaya (UM), Malaysia, pada Sabtu, 24 Mei 2025.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium TDMRC USK ini merupakan bagian dari program studi lapangan mahasiswa Universiti Malaya dengan tema “Social Transformation in Aceh, 20 Years After the Tsunami and Conflict.”

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur TDMRC USK sekaligus dosen pengajar di Program Studi MIK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., yang dalam sambutannya menyoroti dampak historis serta warisan penting dari bencana dan konflik yang pernah dialami Aceh.

Sementara itu, perwakilan Universiti Malaya, Prof. Gs. Dr. Rosmadi bin Fauzi, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan serta menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi akademik antara kedua institusi.

Turut hadir dalam kegiatan ini Prof. Dr. Ichwana, S.T., M.P. dari Sekolah Pascasarjana USK yang mendampingi delegasi Universiti Malaya selama kunjungan berlangsung.

Sebelum sesi diskusi utama dimulai, dilaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan pertukaran cendera mata antara TDMRC USK, PRISB USK, dan Universiti Malaya sebagai langkah awal penguatan kerja sama di bidang riset dan pendidikan kebencanaan.

Diskusi panel dimoderatori oleh Safrina, M.H., M.EPM, dengan menghadirkan empat narasumber dari latar belakang keilmuan yang saling melengkapi.

Dr. Alfi Rahman yang juga merupakan dosen pengajar di Prodi MIK, membuka sesi dengan pemaparan mengenai bencana dan transformasi sosial di Aceh. Ia menyoroti pentingnya kearifan lokal masyarakat Simeulue melalui narasi Smong yang berasal dari pengalaman tsunami 1907 dan terbukti menyelamatkan banyak jiwa saat tsunami 2004.

Menurutnya, nilai-nilai Smong dapat terus diintegrasikan dalam penguatan ketangguhan masyarakat melalui pendekatan komunikasi risiko berbasis budaya lokal.

Selanjutnya, M. Yakub Aiyub Kadir, Ph.D. menyampaikan materi tentang refleksi 20 tahun MoU Helsinki dan perdamaian Aceh. Ia menjelaskan bahwa dua dekade pascaperdamaian, transformasi politik lokal terus berkembang, namun akar utama dalam penyelesaian konflik tetap terletak pada pemahaman mendalam terhadap penyebab konflik itu sendiri.

Norma Susanti RM, M.Si. membahas peran perempuan selama masa konflik, tsunami, dan era damai. Ia menekankan pentingnya komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan perlindungan sistemik bagi perempuan dan kelompok rentan agar dapat berperan aktif dalam pembangunan perdamaian dan manajemen bencana.

Sebagai penutup diskusi, Prof. Rosmadi bin Fauzi menyampaikan refleksi bahwa geografi memiliki peran penting dalam memahami pola kerentanan dan ketangguhan masyarakat, khususnya di wilayah pascabencana dan pascakonflik.

Ia menilai studi lapangan seperti ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pengalaman Aceh dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

Setelah diskusi, peserta diajak mengunjungi fasilitas riset TDMRC USK, meliputi Realtime Earthquake Observatory, Tsunami Wave Flume, dan Shaking Table. Kunjungan ini memberikan gambaran nyata tentang dukungan riset ilmiah dalam memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Melalui kolaborasi Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC, kunjungan akademik ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring internasional, memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, serta memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap dinamika sosial masyarakat yang pernah menghadapi krisis multidimensi dan kini bergerak menuju ketangguhan berkelanjutan.