Magister Ilmu Kebencanaan USK dan TDMRC Gelar Seminar Internasional Bahas Pelajaran dari Gempa Mandalay Myanmar 2025

Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK sukses menyelenggarakan Seminar Series ke-34 pada Rabu, 30 April 2025. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dengan mengangkat tema “Lessons Learned from the 7.7 Mw March 28, 2025 Mandalay-Myanmar Earthquake: Field Data and Building Assessment.”

Seminar ini diikuti oleh 88 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga praktisi yang memiliki perhatian terhadap isu kebencanaan dan mitigasi gempa bumi.

Kegiatan menghadirkan sejumlah pakar internasional dan nasional, yakni Prof. Natt Leelawat dari DRMIS Chulalongkorn University, Prof. Muksin dari TDMRC USK, Ir. Adrial Ulza, M.Sc. dari TDMRC USK, serta Prof. Anawat Suppasri dari IRIDeS Tohoku University, Jepang. Seminar dimoderatori oleh Dr. Yunita Idris Koordinator Program Studi MIK dan Koordinator Divisi TDMRC USK.

Dalam paparannya, Prof. Natt Leelawat menjelaskan kondisi kekacauan di Bangkok saat gempa terjadi, khususnya kemacetan lalu lintas yang menghambat proses evakuasi. Ia menekankan bahwa pengalaman Thailand dalam menghadapi dampak gempa Mandalay menjadi pelajaran penting untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional dan strategi ketangguhan perkotaan di masa depan.

Sementara itu, Prof. Muksin membahas sumber gempa Mandalay yang dipicu oleh pergerakan sesar mendatar kanan di Sagaing Fault. Ia menjelaskan bahwa gempa besar tidak hanya berpotensi terjadi di sesar tersebut, tetapi juga di zona konvergensi Indo-Burma. Kedalaman gempa yang dangkal serta lokasinya yang dekat dengan kawasan padat penduduk menyebabkan dampak yang signifikan.

Ir. Adrial Ulza, M.Sc. menyoroti dampak gempa terhadap bangunan bertingkat tinggi maupun rendah. Menurutnya, keruntuhan bangunan sangat dipengaruhi oleh kualitas desain, pemeliharaan bangunan, serta evaluasi ulang terhadap beban gempa. Ia menegaskan bahwa upaya ketahanan bangunan tidak boleh hanya berfokus pada gedung tinggi, tetapi juga bangunan rendah yang paling banyak digunakan masyarakat.

Prof. Anawat Suppasri menjelaskan karakteristik tanah lunak di Bangkok yang menyebabkan kerusakan bangunan hingga berjarak sekitar 1.000 kilometer dari pusat gempa. Kondisi tanah lunak mampu memperkuat gelombang seismik, sehingga bangunan tinggi lebih rentan mengalami guncangan karena frekuensi alaminya sejalan dengan gelombang berperiode panjang.

Melalui seminar ini, peserta memperoleh wawasan penting mengenai hubungan antara karakteristik gempa, kondisi geologi, desain bangunan, serta kesiapsiagaan perkotaan dalam menghadapi ancaman bencana seismik.

Kolaborasi Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC melalui kegiatan ini diharapkan terus memperkuat kapasitas akademik, memperluas jejaring keilmuan internasional, serta mendorong lahirnya solusi inovatif untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana di masa depan.