Dalam upaya memperluas jangkauan pendidikan dan memperkuat kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang mitigasi bencana, Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan rangkaian “Sosialisasi Program Magister dan Kajian Kebencanaan” pada 25–26 Juni 2026.
Kehadiran MIK hari ini tidak bisa dilepaskan dari luka kolektif yang pernah dirasakan oleh Aceh. Dua puluh dua tahun lalu, pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami Samudra Hindia menghantam pesisir Aceh dan merenggut ratusan ribu jiwa — termasuk dari lingkungan USK sendiri. Dari tragedi itulah tumbuh kesadaran: Indonesia tidak bisa terus mengandalkan tenaga ahli kebencanaan yang “dipinjam” dari disiplin ilmu lain. Dibutuhkan sebuah program yang secara khusus melahirkan para profesional di bidang ini.
TDMRC berdiri pada 30 Oktober 2006, dua tahun setelah tsunami, sebagai wujud nyata komitmen USK untuk mengubah pelajaran pahit menjadi pengetahuan yang dapat melindungi generasi berikutnya. Lembaga penelitian inilah yang kemudian menginisiasi kehadiran Program Magister Ilmu Kebencanaan untuk menjawab kebutuhan tenaga ahli yang khusus membidangi ilmu kebencanaan.
Prodi MIK terbentuk setelah persetujuan Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi melalui SK bernomor 1550/D/T/2010 tertanggal 27 Desember 2010, dan resmi menerima mahasiswa perdana pada tahun ajaran 2011/2012. MIK adalah program studi pertama dalam bidang kebencanaan di Indonesia, dan pada tahun 2012 ditetapkan sebagai Center of Excellence pengembangan ilmu kebencanaan di wilayah Sumatera.
Lebih dari satu dekade berselang, MIK telah meluluskan ratusan alumni yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bekerja sebagai tenaga ahli kebencanaan di berbagai instansi pemerintah, LSM, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga sebagai konsultan. Bahkan, sebagian berkarier di luar negeri, seperti Jepang, Maladewa, dan India. Program ini juga memiliki program double degree dengan Kobe University, Jepang, dan James Cook University sebagai bukti pengakuan internasional atas kualitasnya.
Sebagai program multidisiplin yang menjadi salah satu keunggulan strategis Pascasarjana USK, MIK hadir untuk menjawab kebutuhan nyata bahwa tenaga ahli kebencanaan tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga dimensi sosial, kebijakan, dan kemanusiaan dalam penanggulangan bencana. Dengan mengusung pendekatan keilmuan yang multidisiplin, MIK membuka ruang seluas-luasnya bagi para profesional dari berbagai disiplin ilmu untuk memperdalam kompetensi di bidang pengurangan risiko bencana yang kini menjadi komitmen yang dibawa langsung ke hadapan institusi-institusi strategis di Kota Langsa dan Sumatera Utara.
Kegiatan yang berlangsung pada 25 hingga 26 Juni 2026 ini menyambangi tiga instansi strategis, yakni Universitas Samudra, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, serta BPSDM Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan ketiga institusi tersebut bukan tanpa alasan bagi MIK untuk terus berkolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga teknis pengamatan bencana, dan badan pengembangan SDM pemerintah — yang merepresentasikan tiga pilar penting dalam ekosistem pengurangan risiko bencana: riset dan pendidikan, pemantauan dan peringatan dini, serta implementasi kebijakan berbasis kapasitas sumber daya manusia.

Rangkaian kegiatan hari pertama (25/6) diawali dengan kunjungan ke Universitas Samudra di Langsa. Kehadiran tim USK disambut sekaligus dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Ibu Munira, S.T. Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Program Studi MIK USK, Dr. Yunita Idris, S.T., M.Eng.Structure menegaskan bahwa MIK yang dilahirkan dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) sebagai Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT) siap menjalin kolaborasi komprehensif dengan Universitas Samudra.
Kunjungan ke Universitas Samudra menjadi langkah bagi MIK dalam membangun jembatan akademis antara USK dan perguruan tinggi di wilayah pesisir timur Aceh yang secara geografis berada di kawasan dengan potensi ancaman bencana hidrometeorologi dan geologi. MIK meyakini bahwa mahasiswa dan dosen dari institusi seperti Universitas Samudra memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam kajian kebencanaan berbasis konteks lokal yang justru menjadi keunggulan komparatif program ini dibandingkan dengan pendekatan akademik konvensional.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa USK juga membuka peluang besar bagi lulusan S1 dari berbagai latar belakang prodi, seperti Pendidikan, Ekonomi, Kedokteran, Kehutanan, Hukum, hingga Teknik, untuk melanjutkan pendidikan di program multidisiplin Magister Ilmu Kebencanaan (MIK). Inklusivitas latar belakang akademis ini bukan sekadar kebijakan penerimaan semata, melainkan cerminan filosofi MIK itu sendiri: bahwa bencana adalah fenomena kompleks yang hanya dapat dipahami dan ditangani secara komprehensif jika dilihat dari berbagai sudut pandang keilmuan secara bersamaan.

Pada hari kedua, Jumat (26/6), agenda berlanjut dengan kunjungan ke BBMKG Wilayah I Medan. Rombongan disambut langsung oleh Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, S.T., M.Si. Dalam sambutannya, Hendro menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas penulisan karya ilmiah guna meningkatkan publikasi di lingkungan BBMKG. Ia juga menekankan perlunya mendorong para pegawai untuk melanjutkan pendidikan, mengingat kualifikasi SDM bergelar Magister dan Doktor masih tergolong rendah.

Pertemuan ini menyepakati tindak lanjut strategis berupa pembentukan Gugus Tugas melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara USK dan BBMKG Wilayah I Sumatera Utara.
Bagi MIK, kesepakatan ini membuka peluang kolaborasi yang sangat bermakna. BMKG sebagai institusi ujung tombak sistem peringatan dini nasional memiliki SDM teknis yang kaya pengalaman operasional dan data lapangan. MIK melihat potensi besar untuk mengintegrasikan perspektif ilmiah multidisiplin ke dalam kapasitas analisis dan komunikasi sains para pegawai BMKG, sehingga data teknis yang selama ini dihasilkan dapat diterjemahkan secara lebih efektif menjadi kebijakan dan aksi nyata di tingkat masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Dr. Muksin turut memaparkan profil Prodi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB) serta TDMRC yang mengusung moto “Communication Science, Enhancing Resilience”. Ia menekankan pentingnya komunikasi sains dalam membangun ketangguhan masyarakat pascabencana, serta memaparkan fasilitas riset TDMRC yang berfokus pada pengurangan risiko bencana, sistem informasi, dan rehabilitasi. Moto ini sesungguhnya juga menjadi napas yang mengalir dalam Program MIK: para lulusannya tidak hanya dibekali dengan kemampuan riset dan analisis risiko bencana, tetapi juga dengan kompetensi untuk mengomunikasikan hasil kajian mereka kepada pemangku kebijakan, masyarakat, dan komunitas internasional secara efektif dan berbasis bukti.
Dukungan pengembangan SDM juga disampaikan oleh Dr. Ir. Yunita Idris, S.T., M.Eng.Structure., IPM., yang membuka peluang skema pembukaan kelas khusus bagi pegawai BMKG di Prodi Magister Ilmu Kebencanaan. Skema kelas khusus ini merupakan salah satu wujud nyata fleksibilitas MIK dalam melayani kebutuhan belajar para profesional aktif, tanpa mengharuskan mereka meninggalkan tanggung jawab di institusi masing-masing. Melengkapi hal tersebut, Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU., menambahkan bahwa manajemen kebencanaan memiliki cakupan teknis, sosial, dan kemanusiaan yang luas.

Rangkaian sosialisasi ditutup pada Jumat siang dengan kunjungan ke BPSDM Provinsi Sumatera Utara. Tim USK disambut oleh Kepala BPSDM, Dr. Agustinus, S.SiT., M.T., didampingi oleh Sekretaris BPSDM, Tomy Harahap, S.Sos., M.A.P.

Dalam pertemuan ini, BPSDM Provinsi Sumatera Utara menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kerja sama peningkatan kapasitas SDM Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya melalui program Pendidikan Tematik Kebencanaan. Program ini dinilai sangat mendesak bagi ASN di lingkungan BPBD dan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara yang mayoritas memiliki latar belakang pendidikan non-kebencanaan, seperti Informatika dan Ekonomi. Di sinilah relevansi MIK menjadi paling nyata: program ini memang dirancang untuk menjangkau para profesional dengan latar belakang keilmuan yang beragam, membekali mereka dengan kerangka berpikir, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi kebencanaan secara efektif, terstruktur, dan berbasis bukti ilmiah.

Sinergi ini disambut dengan sangat baik oleh kedua belah pihak. Sebagai tindak lanjut, kolaborasi akan memadukan keunggulan masing-masing institusi; di mana TDMRC USK akan menyediakan pakar dan SDM di bidang kebencanaan, sementara BPSDM akan memfasilitasi sistem manajemen pembelajaran yang telah tertata bagi para ASN.
Melalui serangkaian sosialisasi ini, MIK menegaskan posisinya sebagai program pendidikan tinggi kebencanaan terdepan yang tidak hanya berorientasi pada riset akademis, tetapi juga berkomitmen untuk hadir sebagai solusi nyata atas tantangan kebencanaan di Indonesia. Perjalanan dari Banda Aceh ke Medan bukan sekadar agenda sosialisasi biasa — ini adalah bagian dari misi panjang yang dimulai dari puing-puing 2004 dan masih terus berjalan. Ketiga kemitraan strategis yang dirintis di Sumatera Utara ini menjadi langkah konkret dalam memperluas jaringan akademis dan profesional MIK di tingkat regional, sekaligus mempertegas bahwa investasi pada SDM kebencanaan merupakan fondasi utama bagi pembangunan bangsa yang tangguh.








