Dari Ruang Kuliah ke Meja Perencanaan Kota: Dosen dan Alumni MIK USK Rancang Peta Risiko Bencana Lhokseumawe 2026–2030

Lhokseumawe, 19 Agustus 2026 — Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menegaskan kiprahnya dalam pembangunan daerah tangguh bencana. Sejumlah dosen dan alumni MIK terlibat aktif sebagai tim ahli dalam Diskusi Publik Penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Kota Lhokseumawe Tahun 2026–2030, yang berlangsung di Aula Sekretariat Daerah (Setda) Kota Lhokseumawe.

Acara dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretariat Daerah Kota Lhokseumawe, Mirdha Ihsan, S.STP.

Dari jajaran dosen MIK USK, hadir Prof. Dr. Syamsidik dan Dr. Ir. Yunita Idris, yang juga merupakan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC). Yang membanggakan, keterlibatan MIK USK tidak berhenti pada dosen, tetapi juga mencakup alumni Program Studi, Nazriatun Nisa, yang turut berkontribusi sebagai anggota tim penyusun. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan MIK USK benar-benar terserap dan berperan nyata dalam praktik pengurangan risiko bencana di daerah.

Diskusi publik ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses penyusunan dokumen KRB. Dalam kegiatan tersebut, tim ahli memaparkan hasil identifikasi ancaman (hazard) yang mengancam wilayah Kota Lhokseumawe, analisis tingkat kerentanan (vulnerability) masyarakat dan infrastruktur, serta kapasitas daerah dalam menghadapi bencana. Rangkaian kegiatan mencakup pemaparan metodologi kajian risiko, diskusi dan penjaringan masukan dari para pemangku kepentingan, verifikasi data kebencanaan bersama perangkat daerah, hingga penyusunan rekomendasi awal peta dan tingkat risiko bencana. Masukan yang terkumpul dalam forum ini menjadi bahan penyempurnaan dokumen sebelum ditetapkan sebagai acuan resmi.

Dokumen KRB yang dihasilkan nantinya akan memuat peta risiko bencana, kajian tingkat risiko per jenis ancaman, serta rekomendasi kebijakan sebagai dasar penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kota Lhokseumawe. Dengan demikian, dokumen ini tidak berhenti sebagai kajian teknis, melainkan menjadi instrumen perencanaan yang secara langsung diarahkan untuk mengurangi risiko bencana — mulai dari perencanaan tata ruang yang lebih aman, penentuan prioritas mitigasi, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di masa mendatang.

Keterlibatan dosen MIK dan peneliti TDMRC USK dalam penyusunan dokumen kebijakan kebencanaan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, para dosen dan peneliti tersebut telah terlibat dalam penyusunan berbagai dokumen kebijakan strategis terkait kebencanaan di tingkat daerah maupun provinsi, termasuk Rencana Induk (Renduk) Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh. Rekam jejak ini menegaskan kepercayaan pemerintah daerah terhadap kapasitas keilmuan MIK USK dan TDMRC sebagai mitra penyusunan kebijakan berbasis riset.

Keterlibatan dosen dan alumni dalam kegiatan ini turut mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 3.2 perguruan tinggi, sekaligus sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 17 (Kemitraan), SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).

Melalui partisipasi ini, MIK USK menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang kompeten dan berdampak, serta terus menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata perencanaan pembangunan daerah yang tangguh dan berkelanjutan.