
Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan UPT Mitigasi Bencana / Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, khususnya klaster Disaster Risk Management (DRM), sukses menyelenggarakan Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Asia-Pacific Network Floodrisk Research Project bertema “Advancing Local Flood Decision-making for Disaster Risk Reduction.”
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium TDMRC USK pada Kamis, 18 April 2024, ini merupakan tahap akhir dari kerja sama riset internasional antara The University of Sydney, Universitas Syiah Kuala, dan The University of the Philippines yang telah dimulai sejak tahun 2021 melalui pendanaan riset internasional Asia-Pacific Network (APN). Konsorsium penelitian ini dipimpin oleh The University of Sydney dengan ketua tim Dr. Aaron Opdyke.
Workshop ini dihadiri delegasi dari Filipina, yakni Daryl Daniel G. Bodo, Alejo N. Urmeneta, dan David Ryan D. Hidalgo yang mewakili Pemerintah Daerah Carigara, Leyte. Turut hadir pula Patricia Anne S. Delemndo dan April Dawn F. Tegelan dari Resilience Institute, University of the Philippines.
Selain peserta internasional, kegiatan ini juga dihadiri oleh profesor, dosen, peneliti, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan berbagai instansi dari Aceh Singkil, Provinsi Sumatera Utara, dan sejumlah lembaga terkait di Aceh.
Acara dibuka oleh Direktur TDMRC USK, Prof. Syamsidik, S.T., M.Sc., yang menekankan pentingnya kolaborasi antara wilayah Singkil dan Filipina karena keduanya memiliki tantangan bencana alam yang relatif serupa.
Menurutnya, penelitian ini berfokus pada bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi perubahan iklim, sehingga memicu cuaca ekstrem dan meningkatkan frekuensi kejadian banjir.
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Ketua Peneliti klaster DRM TDMRC USK, Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., menjelaskan bahwa riset ini mengambil studi kasus di dua wilayah yang memiliki kesamaan konteks, yakni Sungai Lae Soraya di DAS Singkil yang berada dalam kondisi kritis, serta Kabupaten Carigara di Provinsi Leyte, Filipina.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan menghasilkan studi komparatif mengenai peran pemerintah daerah dalam pengelolaan banjir serta peningkatan ketangguhan masyarakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik USK, Prof. Dr. Ir. Alfiansyah Yulianur BC, menyampaikan harapannya agar peneliti dan akademisi dapat berperan aktif dalam mengidentifikasi akar penyebab banjir sehingga mampu memberikan rekomendasi ilmiah dan holistik untuk pengurangan risiko bencana.
Dalam sesi pemaparan, narasumber pertama Daryl Daniel G. Bodo membahas ketangguhan masyarakat di Carigara, Leyte, Filipina. Ia menjelaskan bahwa penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat kerentanan bangunan serta merumuskan strategi pengurangan risiko banjir melalui data kuantitatif dan masukan masyarakat lokal.
Narasumber kedua, Era Isdhiartanto, memaparkan pengelolaan tata guna lahan di wilayah hulu Wampu Sei Ular. Ia menjelaskan masih luasnya lahan kritis dan sangat kritis yang memerlukan rehabilitasi vegetatif serta pengendalian sedimentasi di kawasan hulu.
Narasumber ketiga, Dedy Alfian, S.T., M.Sc., Ph.D. Cand., menjelaskan kondisi geomorfologi wilayah hilir DAS Singkil yang didominasi rawa, meander sungai, elevasi rendah, serta lereng landai, sehingga sangat rentan terhadap banjir.
Menurutnya, dibutuhkan upaya pengurangan risiko banjir secara struktural maupun non-struktural yang terintegrasi berbasis daerah aliran sungai, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.
Kegiatan ini ditutup dengan serious game, yaitu simulasi interaktif yang membantu para pemangku kepentingan dalam merumuskan pengambilan keputusan dan menentukan langkah strategis untuk mengurangi risiko banjir dalam konteks perubahan iklim.
Melalui kolaborasi ini, Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas riset serta menghadirkan solusi inovatif guna meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana banjir.







