Magister Ilmu Kebencanaan USK Berkolaborasi dengan TDMRC Gelar Seminar Series ke-30 Bahas Tantangan Pendidikan Kebencanaan di Aceh

Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan UPT Mitigasi Bencana / Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK sukses menyelenggarakan Seminar Series ke-30 sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun gempa dan tsunami Aceh 2004.

Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid melalui Zoom, YouTube, serta secara luring di Auditorium TDMRC USK pada Senin, 18 Maret 2024, pukul 09.00–12.00 WIB. Seminar diikuti lebih dari 80 peserta secara langsung dan hampir 200 peserta daring dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara dimoderatori oleh Dr. Ahmad Nubli Gadeng, S.Pd., M.Pd., peneliti TDMRC sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Geografi FKIP USK.

Seminar dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., bersama Direktur TDMRC USK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc. Kegiatan ini mengangkat isu tantangan pendidikan kebencanaan pasca 20 tahun tsunami serta strategi meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat melalui pendidikan.

Dalam sambutannya, Prof. Syamsidik menegaskan pentingnya menjadikan bencana sebagai proses pembelajaran bagi generasi muda serta mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan yang berkelanjutan.

Ia menyampaikan bahwa generasi USK saat ini merupakan generasi yang lahir setelah tsunami, sehingga tidak mengalami langsung kondisi bencana 20 tahun lalu. Oleh karena itu, pembelajaran kebencanaan perlu dikemas dengan baik agar tidak terjadi “amnesia bencana” atau hilangnya ingatan kolektif terhadap pengalaman masa lalu.

Dalam seminar yang berlangsung hampir empat jam tersebut, para narasumber membahas kondisi pendidikan kebencanaan di Aceh saat ini, termasuk tantangan kebijakan dalam mendorong lahirnya regulasi terkait pendidikan kebencanaan melalui qanun.

Narasumber pertama, Fazli, S.KM., M.Kes., memaparkan materi mengenai kesiapsiagaan Pemerintah Aceh dalam respons bencana. Ia menjelaskan enam program prioritas BPBA saat ini, yaitu penyusunan dokumen kebencanaan, pelatihan manajemen bencana, simulasi kebencanaan, pembinaan sekolah aman bencana, pengembangan Desa Tangguh Bencana (DESTANA), dan Keluarga Tangguh Bencana (KATANA).

Ia juga menyampaikan bahwa upaya mendorong Rancangan Qanun Pendidikan Kebencanaan masih menghadapi hambatan regulasi. Namun demikian, komitmen Pemerintah Aceh tetap terlihat melalui berbagai kebijakan pengurangan risiko bencana yang telah diterbitkan.

Narasumber kedua, Dr. Dra. Sulastri, M.Si., menekankan bahwa pendidikan kebencanaan harus dimulai dari rumah, lingkungan keagamaan, teman sebaya, sekolah, hingga ruang digital. Menurutnya, pengetahuan, sikap, perilaku, serta pemanfaatan teknologi informasi menjadi aspek penting dalam membangun kesiapsiagaan.

Narasumber ketiga, Prof. Dr. Enok Maryani, M.S., membahas tantangan pendidikan kebencanaan setelah 20 tahun tsunami. Ia menjelaskan pentingnya pendidikan kebencanaan dimulai sejak sekolah dan perguruan tinggi, kemudian diteruskan kepada masyarakat di kawasan rawan bencana agar terbentuk budaya sadar bencana.

Ia juga mencontohkan bahwa Sekolah Siaga Bencana merupakan salah satu bentuk mitigasi non-struktural yang efektif dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.

Seminar ini menjadi ruang bertukar gagasan, pengalaman, serta inspirasi dalam memperkuat ketangguhan masyarakat Aceh melalui pendidikan kebencanaan.

Menutup kegiatan, moderator Dr. Ahmad Nubli Gadeng mengajak seluruh pihak untuk terus mewariskan cerita dan pengalaman bencana kepada generasi mendatang, sehingga pembelajaran masa lalu dapat tetap hidup dan pendidikan kebencanaan memperoleh dukungan kebijakan yang tepat.

Melalui kolaborasi ini, Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat literasi kebencanaan, mendorong kebijakan berbasis pengetahuan, serta membangun generasi yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan.