
Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK menyelenggarakan Rapat Koordinasi Tahunan 2025 pada Sabtu, 8 Februari 2025.
Kegiatan ini dihadiri hampir 80 peneliti aktif TDMRC serta sejumlah tokoh penting di bidang akademik dan riset kebencanaan.
Hadir memberikan arahan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemenDiktiSaintek), Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng.
Turut hadir Rektor USK Prof. Dr. Ir. Marwan, Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Agussabti, serta salah satu pendiri TDMRC, Prof. Dr. Ir. M. Dirhamsyah yang saat ini menjabat Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry.
Dalam arahannya, Prof. Khairul Munadi menyampaikan bahwa TDMRC USK dapat menjadi contoh praktik baik dalam implementasi konsep kampus berdampak yang saat ini dikembangkan KemenDiktiSaintek.
Menurutnya, TDMRC telah menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi nyata melalui riset yang transformatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah tengah berupaya menyederhanakan prosedur administratif di perguruan tinggi agar dosen dan tenaga kependidikan memiliki ruang lebih luas untuk berinovasi.
Prof. Khairul Munadi yang juga pernah menjabat Direktur TDMRC periode 2013–2021 menekankan pentingnya memperkuat paradigma pengurangan risiko bencana di Indonesia.

Ia menyebut bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya menyasar masyarakat, tetapi juga harus melibatkan sektor usaha, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, langkah mitigasi harus menjadi pilihan utama agar masyarakat tidak terjebak pada pandangan fatalistik terhadap bencana.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Dikti juga menyoroti pentingnya memperkuat konsorsium perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan kebencanaan di Indonesia.
Rapat koordinasi ini menjadi forum evaluasi capaian riset tahun 2024 dari sepuluh divisi penelitian TDMRC sekaligus menyusun agenda kerja tahun 2025 yang berfokus pada penguatan kolaborasi lintas disiplin.
Direktur TDMRC USK, Prof. Syamsidik, menegaskan bahwa kerja sama antar divisi menjadi kunci dalam menghasilkan riset yang lebih komprehensif dan berdampak luas.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan solidaritas antarpeneliti sebagai kekuatan utama dalam pengembangan inovasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Saat ini, TDMRC mendorong kolaborasi lintas divisi untuk menghasilkan solusi konkret terhadap isu kebencanaan yang semakin kompleks.
Dalam forum tersebut, Prof. Khairul Munadi juga menegaskan bahwa TDMRC lahir dari kesadaran bahwa bencana bukan sekadar takdir, melainkan fenomena alam yang dapat dikelola melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia menilai interaksi multidisiplin merupakan faktor penting dalam keberhasilan riset kebencanaan.
Selain riset berbasis rasa ingin tahu, perguruan tinggi juga didorong mengembangkan challenge-based research yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di lapangan.
Untuk memperluas dampak, ia menekankan pentingnya komunikasi sains kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan, terutama untuk edukasi publik dan perubahan pola pikir terhadap risiko bencana.
Rektor USK, Prof. Marwan, turut menegaskan bahwa selama hampir dua dekade, TDMRC telah membuktikan kontribusinya dalam riset kebencanaan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia berharap TDMRC terus berkembang sebagai pusat unggulan mitigasi bencana dan penguatan ketangguhan masyarakat, sekaligus mendukung program kampus berdampak yang diusung pemerintah.
Melalui kolaborasi ini, Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik, mendorong riset lintas disiplin, serta menghadirkan solusi inovatif untuk pengurangan risiko bencana di Indonesia dan dunia.







