
26 Desember 2025 — Dua puluh satu tahun yang lalu, tepat pada hari ini, masyarakat Aceh dan dunia dikejutkan oleh bencana besar gempa dan tsunami Samudra Hindia 26 Desember 2004 yang melanda pesisir barat Aceh, Nias Sumatera Utara, serta 14 negara lain di kawasan Samudra Hindia. Tidak kurang dari 230.000 jiwa meninggal dunia. Di Aceh sendiri, sekitar 130.000 korban jiwa tercatat, terutama di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.
Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang terdampak paling berat akibat bencana tersebut. Sebanyak 213 dosen dan tenaga kependidikan serta 1.426 mahasiswa kehilangan nyawa. Aktivitas universitas sempat terhenti hampir enam bulan dan baru kembali berjalan penuh pada akhir tahun 2005. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi kampus berlangsung hingga Maret 2009.
Dari tragedi besar tersebut, lahir banyak pelajaran berharga. Salah satu tonggak penting adalah berdirinya Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) pada 30 Oktober 2006, sekitar dua tahun pascabencana. Sejak saat itu, TDMRC USK terus mendokumentasikan praktik-praktik terbaik penanggulangan bencana di Aceh sekaligus menjadi pusat pengembangan ilmu kebencanaan di tingkat nasional maupun internasional.
Namun, tepat dua puluh satu tahun setelah tsunami Aceh, provinsi ini kembali diuji oleh bencana baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada 25–26 November 2025, Aceh terdampak Siklon Tropis Senyar yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar di Pulau Sumatra.
Hingga rilis ini disampaikan, sebanyak 1.129 korban jiwa tercatat di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aceh mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, yakni 504 orang. Sebanyak 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh terdampak langsung oleh siklon tersebut.
Bencana siklon tropis sebelumnya belum pernah menjadi fokus utama dalam agenda manajemen bencana di Indonesia, khususnya di Aceh. Oleh karena itu, kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperluas perspektif mitigasi multi-hazard di wilayah rawan bencana.
Sejak hari kedua pascakejadian, TDMRC USK terlibat aktif dalam proses tanggap darurat dan bantuan kemanusiaan. Universitas Syiah Kuala membentuk Satuan Tugas Respons Siklon Senyar Aceh (SATGAS USK), dengan TDMRC sebagai koordinator utama.
SATGAS USK mendirikan tujuh pos lapangan dan tujuh dapur umum yang beroperasi di sepuluh kabupaten/kota terdampak. Hingga saat ini, sebanyak 480 tenaga medis dan lebih dari 1.000 relawan telah dikerahkan. Bantuan logistik berupa lebih dari 14 ton beras dan kebutuhan pokok lainnya telah disalurkan kepada masyarakat.
Selain itu, lebih dari 400 sumur warga telah dipulihkan, dan lebih dari 500 anak mengikuti program pendidikan darurat serta dukungan psikososial. Seluruh upaya ini terlaksana berkat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta berbagai donatur melalui Yayasan Rumah Amal USK.
Bersamaan dengan respons darurat, tim akademik juga telah memulai berbagai survei dan asesmen pascabencana sejak pekan pertama kejadian. Data lapangan tersebut sangat penting sebagai dasar penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi yang komprehensif dan berkelanjutan.
Bagi Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala, momentum 21 tahun tsunami Aceh dan respons terhadap Siklon Senyar 2025 menjadi pengingat bahwa bencana selalu berkembang dalam bentuk dan tantangan yang berbeda. Oleh sebab itu, pendidikan kebencanaan harus terus bertransformasi melalui pendekatan multidisipliner, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Tragedi tsunami 2004 mengajarkan pentingnya kesiapsiagaan, solidaritas, dan pembangunan kembali yang lebih baik. Sementara Siklon Senyar 2025 mengingatkan bahwa perubahan iklim dan ancaman hidrometeorologi kini menjadi risiko nyata yang harus diantisipasi bersama.
Magister Ilmu Kebencanaan USK berkomitmen untuk terus melahirkan peneliti, praktisi, dan pemimpin masa depan yang mampu merancang solusi kebencanaan secara ilmiah, inklusif, dan berkelanjutan.
Mari jadikan tsunami Aceh 2004 dan Siklon Senyar 2025 sebagai dua ruang pembelajaran besar, tempat pengetahuan, pengalaman, dan inovasi disatukan demi melindungi masyarakat dan bangsa dari risiko bencana di masa mendatang.







