
Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK bersama University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat, melaksanakan riset kolaboratif internasional bertajuk “Equitable and Sustainable Development of Coastal Communities in Southeast Asia (ESCSea).”
Penelitian ini berfokus pada penguatan ketangguhan masyarakat pesisir dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim, khususnya di Kota Langsa dan Kabupaten Simeulue, Aceh.
Untuk wilayah Kota Langsa, penelitian difokuskan pada Gampong Kuala Langsa dan Pusong. Kuala Langsa dipilih karena kerap terdampak banjir rob yang mengganggu mata pencaharian masyarakat nelayan. Sementara Pusong dipilih karena merupakan pulau kecil berpenghuni yang seluruh masyarakatnya bergantung pada sektor perikanan, sekaligus menghadapi ancaman abrasi yang terus mengurangi luas daratan.
Pengumpulan data lapangan dilaksanakan pada 30 Juni hingga 12 Juli 2024 melalui audiensi dengan pemerintah daerah, survei masyarakat, Focus Group Discussion (FGD), serta workshop validasi bersama para pemangku kepentingan.
Kegiatan ini bertujuan menggali bagaimana pengetahuan lokal berperan dalam menopang kehidupan masyarakat di tengah krisis iklim.
Melalui pendekatan partisipatif, penelitian ini melibatkan langsung kelompok rentan seperti perempuan, nelayan skala kecil, serta kelompok adat seperti Panglima Laot.
Tim peneliti melakukan survei kepada 30 responden, wawancara mendalam, serta pemetaan partisipatif bersama aparatur desa dan masyarakat untuk merekam pengalaman hidup mereka dalam menghadapi ancaman lingkungan dan bencana.
Hasil penelitian di Kuala Langsa menunjukkan bahwa perubahan lingkungan seperti abrasi dan fenomena pasang ekstrem telah memengaruhi kehidupan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Salah satu ancaman utama adalah abrasi pantai yang terus mendekati kawasan permukiman. Masyarakat juga menghadapi fenomena lokal seperti “Ie Suak” dan “Ie Tuara.”
“Ie Suak” merupakan istilah lokal untuk gelombang besar disertai perubahan suhu air laut yang tidak biasa, yang menandakan berkurangnya ikan dan memaksa nelayan tidak melaut.
Sementara “Ie Tuara” adalah banjir rob ekstrem yang terjadi dua kali setahun dan menutupi akses jalan hingga setinggi lutut orang dewasa selama beberapa jam.
Selain itu, Kuala Langsa memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata mangrove. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan promosi dan infrastruktur pendukung.
Di Pulau Pusong, penelitian menemukan penurunan hasil tangkapan ikan, abrasi pantai, serta minimnya infrastruktur perlindungan bencana sebagai tantangan utama masyarakat.
Perubahan pola cuaca yang dirasakan warga sejak tsunami 2004 menyebabkan musim tidak lagi mudah diprediksi sebagaimana sebelumnya.
Masyarakat setempat juga masih memegang kuat nilai adat dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari, seperti larangan melaut pada hari Jumat, tradisi peusijuk perahu baru, serta kenduri laot sebagai bentuk syukur atas rezeki laut.
Nilai-nilai lokal ini menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial sekaligus mendukung ketahanan komunitas pesisir.
Sebagai bagian penting dari penelitian, kegiatan lapangan ditutup dengan workshop validasi yang dihadiri pemerintah daerah, Bappeda, BPBD, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta perwakilan masyarakat.
Forum ini bertujuan memverifikasi temuan lapangan sekaligus membangun sinergi antar pihak dalam menyusun strategi pembangunan pesisir yang lebih inklusif dan tangguh.
Prof. Lisa Hiwasaki dari University of Rhode Island menegaskan bahwa kolaborasi internasional seperti ini tidak hanya memperkuat kapasitas riset, tetapi juga membuka ruang dialog antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mencari solusi bersama.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Haekal Azief Haridhi dari Universitas Syiah Kuala bersama Prof. Lisa Hiwasaki dari University of Rhode Island.
Hasil akhir penelitian akan disusun dalam bentuk laporan komprehensif dan policy brief untuk pemerintah daerah guna memperkuat advokasi pembangunan pesisir yang adil dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC dan mitra internasional, kegiatan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat ketangguhan masyarakat pesisir Aceh serta memperluas peran Indonesia dalam forum global terkait perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.







