
Banda Aceh, 6 Agustus 2025 – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK menyelenggarakan Seminar Series ke-35 bertajuk “Insights on Regional Climate-Induced Flood Risk: Case Studies of Indonesia and Malaysia.”
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Banda Aceh ini menjadi wadah strategis pertukaran ilmiah serta penguatan kolaborasi regional dalam menghadapi meningkatnya risiko banjir akibat perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara.
Seminar menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU selaku Koordinator Divisi Disaster Risk Management TDMRC-USK, serta Dr. Khamarrul Azahari Razak, Direktur Disaster Preparedness and Prevention Center (DPPC), MJIIT–Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
Dalam paparannya, Prof. Ella Meilianda menjelaskan hasil kajian ilmiah pada dua wilayah pesisir berisiko tinggi di Aceh, yakni Singkil dan Trumon.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa banjir berulang di kawasan tersebut tidak hanya disebabkan oleh proses sungai, hujan, dan pasang laut, tetapi juga oleh reklamasi lahan gambut yang luas serta penurunan muka tanah rata-rata 5,42 sentimeter per tahun.
Dengan pendekatan terpadu menggunakan citra penginderaan jauh, Digital Elevation Model (DEM), dan simulasi hidrodinamika GeoHECRAS, tim peneliti memodelkan berbagai skenario banjir dengan periode ulang 2 hingga 50 tahun.
Pada skenario terburuk, genangan diproyeksikan mencapai 866 kilometer persegi dengan kedalaman lebih dari lima meter dan durasi genangan hingga 15 hari.
Sementara itu, Dr. Khamarrul Razak memaparkan tantangan sistemik banjir di Malaysia. Berdasarkan data World Bank 2024, Malaysia menempati peringkat ke-12 dunia dalam frekuensi banjir, namun berada di posisi ke-78 dalam rata-rata kerugian ekonomi tahunan.
Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan kapasitas adaptasi yang perlu diperkuat.
Ia menekankan pentingnya investasi berbasis risiko melalui penerapan Integrated Flood Resilience Framework, yang menggabungkan prediksi banjir berbasis kecerdasan buatan (AI), indeks partisipasi masyarakat, serta solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) untuk mendukung pengambilan keputusan di kota rawan banjir seperti Kuala Lumpur dan George Town.
Seminar dimoderatori oleh Dr. Sylvia Agustina, S.T., MUP, peneliti Divisi Tsunami TDMRC sekaligus dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota USK.
Melalui diskusi yang interaktif, kegiatan ini mendorong pertukaran gagasan lintas disiplin antara narasumber dan peserta.
Lebih dari 60 peserta hadir secara langsung maupun daring, terdiri dari mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi kebencanaan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman berbasis data mengenai risiko banjir di Asia Tenggara, memperkuat dialog ilmiah lintas negara, mendorong inisiatif bersama dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi iklim, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang aplikatif.
Direktur TDMRC USK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadikan pengalaman masa lalu sebagai energi untuk membangun masa depan yang lebih aman.
Menurutnya, memori pahit tsunami harus diubah menjadi katalis untuk memperkuat kesiapsiagaan, dengan sains, data, dan solidaritas regional sebagai instrumen utama.
Melalui kolaborasi Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC dan Universiti Teknologi Malaysia, seminar ini diharapkan memperkuat jejaring keilmuan regional, mendorong inovasi kebijakan adaptasi iklim, serta menghadirkan solusi nyata bagi ketangguhan masyarakat Asia Tenggara dalam menghadapi ancaman banjir di masa depan.







