Magister Ilmu Kebencanaan USK Berkolaborasi dengan TDMRC Gelar Seminar Series ke-31 Bahas Manajemen Krisis Kesehatan Pasca 20 Tahun Tsunami Aceh

Banda Aceh, 11 Juni 2024 – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK menyelenggarakan Seminar Series ke-31 sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun tsunami Aceh dengan tema “Health Crisis Management After 20 Years Aceh Tsunami.”

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Milad ke-63 Universitas Syiah Kuala dan menghadirkan sejumlah pakar kesehatan sebagai narasumber, dengan Rizanna Rosemary, Ph.D sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Direktur TDMRC USK, Prof. Syamsidik, menegaskan bahwa tsunami 2004 merupakan peristiwa besar yang menelan sekitar 230.000 korban jiwa dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Namun, masyarakat Aceh mampu bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.

Menurutnya, tema kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan sangat relevan, terutama setelah pengalaman pandemi COVID-19 yang menunjukkan pentingnya kesiapan sistem kesehatan dan pembatasan interaksi sosial.

Ia juga menekankan bahwa kerja sama multidisiplin menjadi kunci dalam mencegah dan menangani penyebaran penyakit di masa mendatang.

Sementara itu, Ketua LPPM USK, Prof. Mudatsir, dalam sambutannya menyoroti pentingnya manajemen risiko bencana dan kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan. Ia menyampaikan bahwa pengalaman tsunami Aceh serta pandemi COVID-19 semakin menegaskan perlunya kewaspadaan dan koordinasi lintas sektor dalam penanganan krisis.

Seminar ini menghadirkan empat narasumber utama dengan beragam perspektif.

Narasumber pertama, Abram L. Wagner, Ph.D., membahas pentingnya vaksin dalam menjaga kesehatan masyarakat pada situasi darurat. Ia menjelaskan sejarah perkembangan vaksinasi, inovasi yang muncul selama pandemi COVID-19, serta sistem pemantauan sindromik di Michigan yang memungkinkan deteksi dini wabah penyakit.

Menurutnya, koordinasi antarsistem kesehatan dan pemantauan yang efektif sangat penting dalam meningkatkan kesiapan menghadapi krisis kesehatan di masa depan.

Narasumber kedua, dr. Widiana K. Agustin, menekankan pentingnya penguatan sistem manajemen krisis kesehatan di Indonesia dengan mengambil pelajaran dari pandemi COVID-19.

Ia mengusulkan peningkatan koordinasi melalui sistem klaster kesehatan, transformasi sistem kesehatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, serta kesiapan infrastruktur dan protokol yang lebih baik.

Narasumber ketiga, dr. Ichsan, membahas peran tokoh agama dalam meningkatkan penerimaan vaksin di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Ia menjelaskan bahwa tantangan vaksinasi antara lain kurangnya informasi, kekhawatiran terhadap efek samping, serta isu kehalalan vaksin. Oleh karena itu, dilakukan kolaborasi antara tokoh agama, tenaga medis, dan pemerintah melalui forum keagamaan serta program “Vaccine-in-a-van” yang menghadirkan layanan vaksinasi langsung ke masyarakat.

Hasil awal menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam meningkatkan cakupan vaksinasi dan mengurangi keraguan masyarakat terhadap vaksin.

Narasumber keempat, Cicely Nurse, membahas pentingnya ketahanan sistem kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya di Banda Aceh.

Penelitian yang dipaparkannya bertujuan menggali pengalaman masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan saat terjadi peristiwa iklim ekstrem, serta mengembangkan dashboard layanan iklim yang mendukung pengambilan keputusan di fasilitas kesehatan primer.

Ia menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi elemen penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas akademik, mendorong kolaborasi lintas disiplin, serta menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan krisis kesehatan di masa depan.