
Banda Aceh – Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK menyelenggarakan diskusi bertajuk “Reflection on 20 Years of Tsunami Humanitarian Aid in Aceh” sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun tsunami Aceh.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium TDMRC USK ini menghadirkan mantan Konsul Jenderal Amerika Serikat, Paul S. Berg, serta aktivis dan relawan tsunami Aceh, Teuku Ahmad Fuad (Taf) Haikal.
Dalam diskusi tersebut, Paul S. Berg mengungkapkan kekagumannya terhadap kecepatan masyarakat Aceh dalam bangkit dari keterpurukan pascatsunami.
Menurutnya, setelah bencana besar yang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, masyarakat dan pemerintah sempat berada dalam kondisi syok. Namun, hanya dalam waktu dua hingga tiga minggu, ia melihat masyarakat mulai kembali berkomunikasi dan membangun kembali kehidupan mereka.
Ia menilai ketangguhan masyarakat Aceh menjadi salah satu pelajaran penting dari tragedi tersebut.
Bagi Paul, mengenang tsunami Aceh bukan sekadar mengenang kesedihan yang terlalu besar untuk diungkapkan, tetapi juga menghargai kekuatan masyarakat dalam menghadapi cobaan.
Ia menambahkan bahwa salah satu faktor utama yang membentuk ketahanan masyarakat Aceh adalah kuatnya nilai keimanan yang dimiliki.
Sementara itu, Taf Haikal memandang tsunami Aceh sebagai pelajaran berharga, tidak hanya bagi masyarakat Aceh tetapi juga bagi Indonesia dalam pengelolaan bencana.
Ia mengingat kembali bagaimana pada masa awal bencana, banyak individu dan organisasi non-pemerintah dari berbagai negara datang membantu Aceh, meskipun pada saat itu koordinasi penanganan masih belum terarah karena Indonesia belum memiliki pengalaman menghadapi bencana sebesar tersebut.
Selain itu, situasi darurat militer di Aceh pada masa itu juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan.
Menurutnya, pengalaman penanganan tsunami Aceh yang melibatkan berbagai pihak kemudian menjadi fondasi penting bagi lahirnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta penguatan regulasi kebencanaan di Indonesia.

Ia berharap peristiwa ini menjadi catatan sejarah yang terus diwariskan kepada generasi mendatang agar pembelajaran dari masa lalu tidak hilang.
Taf Haykal juga menekankan pentingnya penguatan peran BNPB, baik di tingkat nasional maupun daerah, sebagai lembaga yang semakin maju dalam riset mitigasi bencana dan mampu mengoordinasikan seluruh pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana.
Usai kegiatan, Paul S. Berg dan Taf Haikal berkesempatan mengunjungi Realtime Earthquake Observatory TDMRC yang dipandu oleh Prof. Muksin Umar dan Dr. Rizanna Rosemary.
Melalui kegiatan ini, Magister Ilmu Kebencanaan USK bersama TDMRC terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga memori kolektif bencana, memperkuat pembelajaran lintas generasi, serta mendorong peningkatan kapasitas penanggulangan bencana yang lebih baik di masa depan.







